Loading...

Jumat, 25 Februari 2011

Analisis Cerpen

CERPEN SANG IDOLA

Aku kesal setengh mati. Mataku tidak bisa mempercayai apa yang kulihat di tempat parkir saat bubaran sekolah. Anton, si Anton yang jagoan basket itu, yang jadi idola cewek-cewek seantero kelas satu dan dua, memboncengi Anita, si kutubuku yang sama sekali bukan siapa-siapa. Tapi ini kenyataan.
Dina, sahabatku yang setia, juga ikut mengumpat-umpat, “Hebat amat tuh si Anita, sampai bisa diboncengi Anton!”
“Udah ngerayu berbulan-bulan kali… akhirnya kena juga.” Tambah Yeni, sahabatku yang lainnya.
“Menurutku sih, jangan-jangan pakai guna-guna…” Ujarku sembarangan.
“Tapi, kan bukan berarti mereka jadian kan.” Timpal Dina, masih berharap.
Kami bertiga saling berpandangan, di depan pintu perpustakaan yang dekat lapangan parkir itu. Biasanya kami memang saling bersaing dalam kompetisi untuk mencari perhatian Anton. Tapi kali ini, karena ada musuh baru, tiba-tiba kami merasa senasib. Persahabatan rasanya jadi semakin kuat.
Sebetulnya, selama ini, kami sering berusaha menunjukkan perhatian kami ke Anton. Setiap pertandingan bola basket, dimana Anton menjadi bintangnya, kami selalu hadir dan paling bersemangat memberikan dukungan. Antonpun tampaknya menyadari bahwa kami fans beratnya. Maka setiap ia berhasil mencetak angka, ia selalu berlari ke arah kami, memberikan tos sambil tersenyum, membuat kami yang duduk di bangku terdepan seakan meleleh.
Tapi hari ini aku kesal sekali. Pada Anita, juga pada Anton. Tidakkah ia menyadari bahwa Anita itu seorang anak kuper, yang lebih banyak malu-malunya dibanding bergaul dengan teman-teman lain. Walaupun harus diakui, ia anak paling pandai dalam kelas. Mungkin itu sebabnya, Anton tertarik padanya, sebab rasanya tak mungkin kalau Anita yang berinisiatif mendekatinya duluan, aku beranalisa. Dina dan Yeni juga tampak diam, barangkali mereka berdua juga sedang sibuk beranalisa. Makin dipikir makin kesal rasanya.
##########
Saat istirahat siang, di kantin sekolah, suasana tempat kami berkumpul untuk bergosip jadi penuh bisik-bisik. Topik pembicaraan hangat sambil menghirup teh botol, apalagi kalau bukan, Anton dan Anita, AA!
“Tuh, lihat Din, sekarang Anita sudah berani dandan tuh!” Yeni memulai.
“Iya, jadi menor kayak gitu, ih!” Timpal Dina.
“Gayanya, uh… kecentilan banget sih!”
Berjarak dua meja dari kami, Anita duduk sendirian sambil menikmati mie basonya. Yang tidak biasa adalah, ia mengenakan anting-anting panjang. Sejujurnya, ia jadi tampak lebih manis. Tapi bagi kami saat ini, ia tampak bagaikan seorang nenek sihir!
Selang tak lama, Anton tampak berjalan masuk ke kantin. Serentak kami bertiga memasang wajah paling manis. Ketika Anton melalui meja kami, dengan kompak kami menyapa, “Hai Anton….” Bagaikan koor.
Anton tersenyum ramah, mengangkat tangan kanannya dan berjalan terus. Lalu duduk di meja Anita, berhadapan dengannya dan membelakangi kami. Aku, Dina dan Yeni ternganga. Mereka berdua berbincang dengan asyik, sesekali Anita tertawa tersipu. Oh, sungguh pemandangan yang menyakitkan.
“Kayaknya kita makin kalah set nih.” Akhirnya Yeni membuka suara.
Aku dan Dina seakan tercekat, tak mampu berkata apa-apa. Anton lebih tertarik pada Anita daripada kami bertiga.
“Yuk, mendingan bubar…” Ajakku akhirnya.
Kami bertiga berjalan melalui meja mereka. Saat Anita melihat ke kami, aku memberi pandangan sinis. Biarin, biar ia tahu aku kesal, meskipun mungkin ia tidak tahu sebabnya. Dina dan Yeni pun melakukan hal yang sama. Kami berjalan kembali ke kelas dengan masih sambil menggosipkan mereka berdua.
##########
“Halo Ran!”
Aku memandang ke arah asal suara dan terkejut. Anton!
Ia mengambil tempat duduk di sebelahku, di meja baca perpustakaan. Aku salah tingkah dan berusaha tersenyum ramah kepadanya.
“Tumben, jagoan basket mampir ke perpustakaan…” Aku mencoba menetralisir perasaan dag dig dugku.
“Iya, nyari kamu.” Jawabnya. Senyumnya yang menawan terus dikembangkannya.
Mencari aku? Ah, pangeran, kenapa baru sekarang?
“Ada apa Ton?” Tanyaku sambil pura-pura meneruskan baca novel yang kupegang sejak tadi.
“Kangen…”
Apa aku tidak salah dengar?
“Apa Ton?” Tanyaku lagi.
“Kangen sama kamu.” Anton mengulang jawabanya.
Aku terpana. Mata Anton menatap lurus kemataku. Sejujurnya, meski aku naksir dia, tapi kalau berhadapan langsung seperti ini, aku benar-benar salting. Apalagi ia bilang kangen.
Tangan Anton menggenggam tanganku, sambil berkata “Mau sekalian nanya… Sabtu sore besok ada acara?”
Ada apa ini, mengapa mendadak seperti ini? Tapi hatiku tak sempat mempertayakan lebih jauh. Naluriku langsung memaksaku untuk menjawab, “Enggak. Emang kenapa Ton?”
“Aku mau ngajak kamu ke acara khusus.”
“Acara apa?”
“Di Bentara Budaya ada acara baca puisi. Seru lho, ada Ben Alkhairy.”
Bagaimana Anton bisa tahu aku suka acara baca puisi. Apalagi sampai tahu seniman favoritku, Ben Alkhairy.
“Boleh Ton. Aku suka.” Jawabku dengan mata berbinar.
“Kalau begitu, aku jemput jam lima sore ya.”
Aku mengangguk dan terdiam. Diam, karena tidak tahu mau omong apa.
“Ya udah Ran, aku mau balik dulu.”
“Eh, sebentar Ton.” Aku menggamit tangannya, menghentikan langkahnya.
“Kenapa?” Anton duduk kembali di sebelahku.
Aku tak tahu harus mulai darimana. Aku bingung, kenapa Anton mengajakku, bukannya Anita.
“Ranti, ada apa? Kamu ada acara lain?” Tanya Anton sambil menatap dalam-dalam ke mataku. Oh, jangan melihatku seperti ini. Aku bisa kehilangan kata-kata.
“Ton, Anita enggak marah, kamu ngajak aku pergi?” Akhirnya keluar juga pertanyaan ini.
Anton tersenyum. “Kenapa kamu nanya gitu?”
“Selama ini, aku lihat kamu dekat sama dia. Kalian jadian?” Tanyaku lagi memberanikan diri.
Anton menghela nafas sebelum menjawab. “Menurutmu aku jadian sama Anita?”
“Semua teman-teman juga bilang begitu.”
“Ranti, Ranti. Aku cuma mendekatinya supaya dia mau bantu aku bikinin pe er. Kalau dia salah mengerti ya bukan salahku dong.”
Aku terkejut dengan jawaban Anton.
“Tapi…”
“Sedari dulu sebetulnya aku suka kamu, Ranti, tapi kupikir aku belum berani bilang apa-apa sama kamu. Sekarang kamu sudah tahu kan…”
Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Anita melangkah masuk. Matanya tertumbuk pada Anton, lalu ketangannya yang sedang menggenggam tanganku. Anita berhenti melangkah, membetulkan letak kacamatanya. Kelihatannya ia tak percaya apa yang dilihatnya di depan mata.
Anton berdiri, berjalan keluar ruang perpustakaan. Saat melewati Anita, ia hanya menyapa, “Hai Nit!” seakan-akan tidak ada apa-apa.
Aku melihat Anita yang seperti terhipnotis. Diam, tak bergerak dan bicara.
Seharusnya aku merasa menang.
Seharusnya aku menertawainya.
Seharusnya Anita menangis dan berlari keluar.
Sedetik kemudian, yang kurasakan justru berbeda. Anita tetap melangkah masuk. Lalu duduk di hadapanku. Tampak ia berusaha tegar seakan tidak ada apa-apa. Justru aku yang merasa tidak tenang. Terpikir ucapan Anton tadi. Ia cuma memanfaatkan Anita saja. Dan tentunya Anita mendengar kata-kata Anton tadi.
Aku menghampirinya, duduk di sebelah dia. “Nit…” Sapaku perlahan. “Tadi Anton…”
“Ya, aku dengar semuanay Ran.” Anita memejamkan matanya. Di bali kacamata minusnya, di sudut matanya mengalir setitik air mata.
“Aku juga tidak senang apa yang Anton bilang tadi.” Kataku.
Anita menatapku seakan tak percaya.
“Ya Nit. Aku juga enggak bisa nerima omongannya. Dipikirnya kita cewek yang bisa didekati lalu ditinggal seenaknya.”
Anita mengangguk, menghapus air matanya. Aku merangkul bahunya.
“Kita balas dia ya Nit!”
##########
Pukul lima sore lewat sedikit. Aku mendengar deru motor di depan rumahku. Tak lama, bel pintu berbunyi.
“Hai Ranti, udah siap?” Sapa sang idola itu, saat aku membuka pintu.
“Mmm… gimana ya Ton, mendadak aku ada tamu penting nih.”
Anton melihat ke dalam ruang tamu dari balik pundakku. Matanya tertumbuk pada seorang cowok yang sedang duduk santai. Cowok itu lalu melangkah ke sampingku.
“Hai, kamu pasti Anton. Kenalkan Aku Hartono.” Cowok itu mengulurkan tangan.
Anton membalas menyalaminya. Mukanya menunjukkan ia bingung.
“Ini Hartono, Ton, cowokku baru datang dari Bandung. Ia mau ikutan nonton pembacaan puisi juga. Boleh ya Ton.”
Anton membuka topi petnya, menggaruk kepalanya. “Boleh aja sih Ran…” Jawabnya tak bersemangat.
“Oke, kita ketemu di sana ya. Aku naik mobilnya Hartono.” Kataku lagi.
Anton tak punya pilihan. Maka ia segera menunggangi motornya kembali dan berlalu.
Aku menyusulnya bersama Hartono.
Tiba di Bentara Budaya, Anton yang tiba lebih dahulu sudah duduk di salah satu meja. Wajahnya benar-benar tak bersemangat. Kami lalu duduk bersama. Sepanjang acara, hanya aku dan Hartono yang berbincang saja. Kadang saat aku menanyakan sesuatu pada Anton, ia hanya menjawab sekenanya. Menjelang acara berakhir tiba-tiba Anita muncul.
“Sori Ranti, aku telat. Soalnya tadi kena macet.” Ujar Anita. Anton terbelalak. “Geser sedikit Ton.” Ucapnya sambil duduk bergabung dengan meja kami.
Anton sedikit bersemangat, tapi tak punya kesempatan bicara, karena Anita, Hartono dan aku sibuk ngobrol. Akhirnya ia hanya duduk bersandar di kursinya, kehilangan minat sama sekali pada acara ini.
Ketika acara usai, kami bertiga berpamitan pada Anton. “Makasih ya Ton, udah ngajakin kita ke acara ini. Kita jalan dulu ya.” Ucapku padanya sambil berjalan ke mobil Hartono. Anton hanya mengangguk lesu. Ketika masuk ke mobil, semuanya tertawa.
“Kamu lihat mukanya tadi Nit? Berusaha mau ngajak kamu ngobrol.”
“Iya, tapi lebih asyik obrolan kita ya…” Jawab Anita seru, “Tapi tadi waktu jemput kamu, dia benar-benar kaget dong?”
“Tentu saja. Tapi ini terakhir aku pura-pura jadi pacar Ranti ah. Nanti aku enggak laku!” Sahut Hartono sambil tertawa. Sebetulnya, Hartono adalah sepupuku yang kuliah di Bandung. Aku meminta bantuannya untuk mengerjai Anton.
Kami menurunkan Anita di rumahnya, lalu langsung pulang. Setibanya di rumah, tak lupa aku berterima kasih pada Hartono.
“Makasih ya Har. Kamu baik deh.” Aku menepuk punggungnya.
“Sama-sama Ran. Eh, tapi jadi kan kamu nyomblangin aku ke Anita?” Sahutnya bersemangat.
“Huuu… jadi nolongin ada imbalannya nih?”
“Bukan imbalan sih. Tapi enggak ada salahnya kan.”
“Iyalah. Tapi kamu enggak playboy kayak Anton kan?”
Hartono mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, membentu hurf V, “Pasti Ran.”
Kami tertawa bersama. Dina dan Yeni mesti kuberitahu kejadian seru hari ini.
*** by Chr: 1986 ***
Analisis Cerpen “Sang Idola” karya Chaer:1986

  1. Analisis Makna

Cerpen sang idola menceritakan tentang kisah remaja disekolah antara persaingan, cinta dan persahabatan. Kehadiran Sang idola, Anton jagoan basket yang diidolakan cewek-cewek disekolah, menimbulkan persaingan antara Ranti, kedua sahabatnya dan Anita si kutubuku yang kuper.
Persaingan dengan kedua sabatnya tidak menimbulkan masalah, karena mereka bersaing sehat dan tetap sahabat. Tapi saingan baru mereka ini yang menimbulkan masalah besar. Cewek saingannya itu adalah Anita si kutubuku. Anton sering jalan bareng sama Anita, malah sering juga dibonceng saat berangkat sekolah. Penampillan Anita pun berubah. Yng semua cupu dan kuper berubah menjadi lebih manis dan menor pakai anting panjang. Mereka berdua tampak semakin dekat, dan Anton lebih tertarik pada Anita dari pada dengan Ranti dan kedua sahabatnya.
Yang sangat mengagetkan ketika diperpus, Anton menghampiri Ranti dan duduk disampingnya. Anton bilang ingin bertemu dengannya karena kangen dan mengajaknya keluar nanti sore ke Bentara Budaya nonton acara baca puisi acara kesukaan Ranti. Ia setuju, dan sebelum Anton beranjak meninggalkan nya, Ranti bertanya tentang Anita. Ia bertanya apakah Anita tidak marah kalau lihat mereka jalan brdua. Anton menjelaskan kalau dia tidak ada apa-apa dengan Anita, dia mendekatinya supaya mau dibantu bikin PR saja. Anton juga bilang sebenarna sudah lama dia naksir sama Ranti papi belum sempat menyatakan.
Ternyata apa yang mereka bicarakan tadi didengar oleh Anita. Tiba-tiba Anita masuk dan melepaskan genggaman tanganya dengan Ranti, menyapa Nita lalu pergi, seperti tidak terjadi apa-apa. Anita duduk disebelah Ranti lalu menangis. Bukan rasa puas dan senang melihat Anita patah hati, tapi justru berbeda. Kemudian mereka berdua curhat dan Ranti menenangkan Anita yang hancur hatinya. Mereka berdua sepakat akan membalas.
Pukul lima sore Anton menjemput Ranti, tapi tidak beranjak pergi karena ada cowok dibelakang Ranti. Kemudian ia mengenalkanya dengan dengan sang idola basket itu, dan ternyata Ranti bilang itu adalah pacarnya. Ranti juga bilang mau mmengajak Hartono cowoknya itu ikut nonton. Lalu mereka berangkat bersama, tapi dang idola basket sendirian dengan motornya karena Ranti bersama dengan Hartono nak mobil. Dengan tak bersemangat Anton pun terpaksa berangkat.
Sampainya di Bentara Budaya, Anton hanya duduk bersandar tak bersemangat, sedangkan Ranti dan Hartono asyik berbincang. Tak lama kemudian Anita datang dan mereka bertiga asyik ngobrol, tapi Anton hanya bicara sedikit dan menjawab sekenanya saja. Ketika acara usai, mereka bertiga beranjak duluan  dan berpamita pulang pada Anton dan mengucapkan terimakasih telah menemani mereka. Anton menjawabnya dengan anggukan lesu. Ketika masuk ke mobil, semuanya tertawa dan ternyata itu adalah sekenario mereka untuk membalas Anton, dengan bantuan Hartono sepupu Ranti yang kuliah di Bandung. Untuk membalasnya Tono minta agar Ranti mau ngejomblangin Tono ke Nita, dan Ranti setuju tapi memastikan bahwa Hartono tidak playboy seperti Anton, dan mereka tertawa bersama. Ranti berfikir, ia mesti memberi tahu kepada Dina dan Yeni sahabatnya.
  1. Analisis Struktur

  1. Alur
Paparan digambarkan ketika tokoh aku dan kedua sahabatnya kesal karena Anton sang idola mereka ngeboncengin Anita. Rangsangan ketika mereka berdua sering jalan bareng. Gawatan diambarkan ketika Niita dan Anton makan bareng di kantin sekolah, dan mereka bertiga dicuwekin. Klimaks digambarkan ketika anton mmenghampiri Ranti, menyatakan kalau dia naksir Ranti sudah lama. Kemudian Anton ngajak Ranti keluar nonton acara baca puisi. Sang idola basket juga mengatakan ia dekat dengan Anita karena cima iseng agar dia mau Bantu Anton bikin PR. Anita mmendengarkan semua pembicaraan Anton dan patah hati.
Leraian digambarkan ketika Anton menjemput Ranti untuk nonton acara baca puisi. Selesaian digabarkan ketika Ranti menajak Hartono yang dkenalkan pada Anton sebagai cowoknya yang baru datang dari Bandung, mereka berangkat dan Anton kecewa tapi terpaksa berangkat. Anita juga hadir, lalu mereka bertiga asyik ngobrol dan Anton hanya diam. Setelah acara selesai, mereka bertiga berpamitan dan masuk mobil lalu tertawa bersama, karena telah membalas perlakuan Anton.
  1. Tokoh dan Penokohan
Tokohnya yaitu Anton sebagai pemeran utama sekaligus lawan idola lalu menjadi lawan tokoh Ranti dan Anita, Yeni dan Dina sebagai sahabat Ranti, Hartono sebagai sepupu Ranti. Ranti dalam cerpen “Sang Idola” merupakan unsure yang sangat penting karena menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan kepada pembaca. Bahwa keberadaan teman adalah sangat penting, maka tidak perlu adanya persainganmemperoleh perhatian atau apapun dengan menorbankan persahabatan. Bukan sifat pendendam yang diperankan oleh Ranti, tapi untuk mempertahankan persahabatan dan menyadarkan Anton. Tokoh Anton bersifat sombong, playboy, suka mempermainkan dan memanfaatkan cewek. Anita bersifat baik, sabar, dan tidak pendendam.
  1. Latar
Penulis lebih menekankan tempat dan suasana kejadian. Yaitu berawal dari sekolahan; kantin, parkiran dan perpustakaan. Lalu di Bentara Budaya pada acara baca puisi, suasananya menyenangkan.
  1. Tema
Cerpen “Sang Idola” menceritakan tentang persaingan, cinta, dan persahabatan. Persaingan untuk memperoleh perhatian dari seorang cowok tidak sebanding dengan persahabatan sejati.
  1. Amanat
Pengarang cerpen “Sang Idola” mengajak untuk menilai sebuah persaingan dan persahabatan. Persaingan merebut perhatian atau apapun menjadikan Ranti memahami sebuah kebenaran dalam persahabatan. Ranti, Anita dan mereka semua yang masih remaja, dengan cara anak remaja juga mereka memberi pelajaran kepada Anton agar sadar dan jera akan keplayboyannya dan agar bias menghargai wanita serta arti persahabatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar