Jumat, 25 Februari 2011

PROPOSAL PENELITIAN


PROPOSAL PENELITIAN

Karakteristik dan Variasi Bahasa Slang Geng Punk Rock di Wilayah Sriwedari  Surakarta




Disusun Oleh :


Siska Agustin Kusumastuti
A.310080118


PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
Surakarta
2010 




Bab I
 Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia, terutama fungsi komunikasi. Bahasa merupakan alat interaksi sosial atau alat komunikasi manusia. Dalam setiap kegiatan, bahasa dapat memberikan informasi yang berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan maupun secara langsung. Komunikasi adalah penyampaian pesan dan maksud dari seseorang kepada orang lain melalui bahasa. Timbulnya ragam bahasa atau variasi bahasa disebabkan adanya penutur untuk memilih bahasa sesuai dengan situasi dalam konteks sosialnya.Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang timbul karena pemakaian yang berbeda, topik yang dibicarakan berbeda serta medium pembicaraan yang berbeda pula. Salah satu variasi bahasa yaitu prokem. Bahasa prokem adalah variasi ujaran yang bercirikan dengan kosakata baru ditemukan dan cepat berubah, dipakai oleh kaum muda atau kelompok sosial dan profesional untuk berkomunikasi di dalamnya.
Bahasa slang atau bahasa prokem juga merupakan bahasa rahasia yang berubah-ubah, yang digunakan dalam alat komunikasi pada kelompok tertentu. Menurut Wahyuni (2009), Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Punk dapat diartikan sebagai ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan Komunitas Punk menjadi sebuah fenomena dalam masyarakat baik di Indonesia sendiri ataupun di dunia. Ideologi, tabiat anarkisme sampai dengan penggunaan bahasa, sepertinya telah menjadi sebuah kultur tersendiri bagi komunitas Punk itu sendiri. Dari segi Bahasa, banyak bahasa-bahasa komunitas Punk yang berisikan pesan sebuah pembebasan, pemberontakan, ataupun sebuah ancaman. Dari uraian tersebut diatas maka peneliti mengambil rumusan masalah bagaimana kekhasan bahasa dalam berkomunikasi di kalangan punker Malang. Dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi, Hafied Cangara dalam Wahyuni (2009) menyebutkan bahwa bahasa didefinisikan sebagai seperangkat kata yang telah disusun secara berstruktur sehingga menjadi himpunan kalimat yang mengandung arti. (Cangara, 2002:103). Bahasa merupakan pesan verbal dimana pesan verbal merupakan bagian dari sistem sinyal dalam komunikasi dimana seseorang berbicara dan mendengarkan (DeVito, 2006:43). Komunitas punker adalah sebuah perkumpulan para anggota punk. Punk diartikan sebagai anak muda yang masih ?hijau?, tidak berpengalaman, atau bahkan tidak berarti. Bahkan diartikan juga sebagai orang yang ceroboh, sembrono, dan ugal-ugalan. (http://punkside.wordpress.com/tag/apakah-punk) dalam Wahyuni (2009). Permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada karakteristik dan variasi bahasa geng Punk Rock di Sriwedari Surakarta.
Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata alam diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim diapakai di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, ada permasalahan yang perlu dibahas antara lain karakteristik dan variasi bahasa slang, isi pesan dan fungsi pengungkapan pada bahasa slang geng punk rock di Sriwedaari Surakarta.



B. Perumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.
  1. Bagaimanakah karakteristik dan variasi bahasa Slang pada masing-masing tuturan Geng Pung Rock di Sriwedari Surakarta?
  2. Apasaja isi pesan pada tuturan yang digunakan Geng Pung Rock di Sriwedari Surakarta?
  3. Bagaimana fungsi pengungkapan karakteristik bahasa Slang pada alat komunikasi Geng Punk Rock di Sriwedari Surakarta?
C.    Tujuan Program
  1. Mendeskripsikan karakteristik dan variasi bahasa Slang pada masing-masing tuturan atau bahasa pada Geng Pung Rock di Sriwedari Surakarta.
  2. Memaparkan isi pesan pada tuturan yang digunakan Geng Pung Rock di Sriwedari Surakarta.
  3. Mendeskripsikan fungsi pengungkapan karakteristik bahasa Slang pada Geng Punk Rock di Sriwedari Surakarta.
D. Manfaat
 Manfaat dari penelitian karakteristik dan variasi bahasa Slang Geng Punk Rock di Wilayah Sriwedari  Surakarta ini adalah dapat memperoleh pemahaman tentang karakteristik dan variasi bahasa slang, isi pesan pada tuturan, dan fungsi pengunkapan bahasa Slang pada Geng Punk Rock di Sriwedari Surakarta.


Bab II
Kajian Pustaka dan Landasan Teori

A. Kajian Pustaka
Penelitian seseorang dapat diketahui keasliannya melalui tinjauan pustaka, yang merupakan paparan hasil penelitian yang dilkukan oleh peneliti lainnya. Ada beberapa penelitian yang relefan dengan penelitian ini sebagai tinjauan pustaka  yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya.
Penelitian Apriani (2008) berjudul “Variasi Bahasa, Isi Pesan, dan Kode Bahasa Chatting untuk Komunikasi Pergaulan di Internet”. Tujuan penelitiannya antara lain 1) mendeskripsikan unsure-unsur variasi bahasa, isi pesan, dank ode bahasa cahatting yang digunakan uuntuk komunikasi oergaulan diinternet, 2) mendeskripsikan makna terjadinya penggunaan unsure-unsur variasi bahasa, isi pesan, dank ode bahasa chatting dalam pergaulan diinternet kebanyakan menggunakan ragam tidak baku dan susunan kalimat yang menyimpang dari kaidah susunan kalimat menurut EYD. Persamaan dengan penelitian ini yaitu membahas tentang variasi bahasa dan isi pesan. Adapun perbedaannyua adalah terletak pada data yang diteliti. Apriyani meneliti tentang kode chatting, sedangkan peneliti mengkaji tentang variasi bahasa Slang Geng Punk Rock di Surakarta,
Penelitian Nazil Kurniawan (2010) berjudul “Membaca dan Mengurai Bahasa dalam Spanduk”. Tujuan penelitiannya adalah untuk mengidentifikasi pola kalimat pasa spandukk kampanye calon legislative dalm pemilu tahun 2009 dan mengungkap isi pesan yang terdapat pada spandukk kampanye calon legislative dalm pemilu tahun 2009 di Surakarta. Penelitian Kurniawan mempunyai persamaan dengan penelitian ini, yaitu mendeskripsikan isi pesan dari data yang diteliti.
Penelitian Wahyuni (2009) berjudul Kekhasan Bahasa Dalam Berkomunikasi Di Kalangan Komunitas Punker (Studi pada Komunitas Punk Malang)”. Dari analisa data yang telah dilakukan peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa Komunitas Punk di Malang tidak memiliki bahasa kelompok sendiri. Bahasa yang digunakan adalah bahasa verbal yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut anggota komunitas punk di Malang, bahasa yang digunakan adalah bahasa yang mengarah pada kekerasan, sebuah protes, dan penolakan. Pada dasarnya yang menjadi latar belakang dari kesan kasar dari bahasa yang digunakan adalah berasal dari latar belakang berdirinya gerakan Punk itu sendiri. Persamaan dengan penelitian ini yaitu pada data dan objek penelitiannya yaitu Geng Punk Rock. Adapun perbedaanya, penelitian Wahyuni terfokus pada kekhasan bahasa, sedangkan penelitian ini terfokus pada variasi bahasa fungsi pengungkapan bahasa.
Penelitian Sundari (2008) berjudul “Penggunaan Bahasa Prokem Waria di Kota Trenggalek”. Dari analisa data yang telah dilakukan peneliti dapat ditarik kesimpulan Bahasa prokem waria di Kota Trenggalek, dapat berupa (1) kata, (2) singkatan dan akronim. Bentuk prokem ini merupakan pokok yang akan dianalisis. Dari hasil analisis tersebut dapat memberikan gambaran objektif tentang pola pembentukan kata, fungsi, dan makna dari prokem waria di Kota trenggalek. Terdapat persamaan dengan penelitian ini antara lain analisis variasi bahasa Slang atau Prokem, dan fungsi pengungkapan bahasanya. Adapun perbedaannya terletak pada data yang diteliti. Sundari meneliti tentang penggunaan bahasa prokem waria di Kota Trenggalek, sedangkan peneliti mengkaji variasi bahasa Slang atau prokem pada tuturan Geng Punk Rock di Surakarta.
Penelitian Sumarni (2008) berjudul “ Analisis Tuturan Kru Bus Jurusan Solo-Sragen (Interaksi antara Kru Bus-Penumpang/ calon penumpang). Tujuan penelitian ini antatra lain 1) mendeskripsikan bentuk wujud tindak tutur Kru Bus (sopir, kondektur, kernet) jurusan Solo-Sragen. 2) mendeskripsikan fungsi bahasa yang terdapat dalam tuturan Kru Bus (sopir, kondektur, kernet) jurusan Solo-Sragen. 3) mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi Kru Bus (sopir, kondektur, kernet) jurusan Solo-Sragen. Persmaan dengan penelitian ini adalah mendeskripsikan tuturan kelompok tertentu dengan bahasa tartentu pula. Adapun perbedaannya terletak pada data yang diteliti. Sumarni meneliti tentang analisis tuturan, sedangkan penelitian ini mengkaji variasi bahasa Slang.
Dari berbagai penelitian yang telah dikemukakan diatas, penulis membatasi kajian dalam penelitian yang berjudul Karakteristik dan Variasi Bahasa Slang Geng Punk Rock di Wilayah Sriwedari  Surakarta ini pada karakteristik dan variasi bahasa slang, isi pesan pada tuturan, serta fungsi pengunkapan bahasa Slang pada Geng Punk Rock di Sriwedari Surakarta.




B. Landasan Teori   

i) Bahasa
Bahasa adalah lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikakn diri, (Kridalaksana, 2001).
Bahasa memiliki fungsi yang amat penting bagi manusia, terutama untuk berkomunikasi. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik dan sempurna, juga merupakan alat yang ampuh untuk bekerjasama dengan antar anggota masyarakat.
Beberapa ciri yang hakiki dari bahasa antara lain, adalah 1) bahasa itu adalah sebuah sistem, 2) bahasa itu berwujud lambang, 3) bahasa itu berupa bunyi, 4) bahasa itu bersifat arbiter, 5) bahasa itu bermakna, 6 ) bahasa itu bersifat konfensional, 7) bahasa itu bersifat unik, 8) bahasa itu bersifat universal, 9) bahasa itu bersifat produktif, 10) bahasa itu berfariasi, 11) bahasa itu dinamis, 12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, 13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya, (Chaer, 2007: 33).

ii) Variasi Bahasa
Hartman dan Stork (1972) dalam Chaer dan Agustina (1995) membedakan variasi berdasarkan kriteria a) latar belakang geografi dan sosial penutur, b) medium yang digunakan, dan c) pokok pembicaraan.
Variasi dari segi penutur, yang pertama adalah idiolek yakni variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Kedua disebut dialek yakni variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu. Ketiga kronolek atau dialek temporel yakni variasi bahasa yang digunakan kelompok sosial pada masa tertentu. Keempat sosiolek atau dialek sosial, yakni variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penutur.


iii) Bahasa sebagai Tindak Komunikatif
Dalam berkomunikasi terjadi peristiwa komunikatif. Berkaitan dengan hal tersebut, Suyono (1990: 18) dalam (Arum, 2008), menyatakn bahwa pragmatik sebagai studi yang berkaitan dengan pengunaan bahasa, yang memiliki tiga konsep dasar yang harus dikaji, yaitu:
1.      tindak tutur komnikatif sebagai wujud aktual penggunaan bahasa. Dalam tindakan komunikatif ini ada beberapa tindak bahasa, yaitu menyela, memngundang, menyuruh, memnghadap, memerintah.
2.      peristiwa komunikatif yaitu satu unit peristiwa bahasa yang mempunyai keragaman, keutuhan, dan kesatuan atas seperangkat komponen komunikasi.
3.      situasi komnikaatif, yaitu konteks yang meliputi terjadinya peristiwa komunikatif atau konteks dimana peristiwa komunikatif terjadi.
iv) Isi Pesan
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lainagar terjadi saling mempengaruhi diantara keduanya. Pada umunya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata lisan yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti olek keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan dengan  menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyu, menggelengkan kepala, dan mengangkat bahu.
Secara ringkas, prosses berlangsungnya komunikasi digambarkan sebagai berikut.
1.      Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk babhasa atau lewat simbol-simbol yang dapat dimengerti oleh kedua pihaak.
2.      Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau salluran baik secara langsung maupun tidak langsung.
3.      Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya kedalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu sendiri.
4.      Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami isi pesan yang dimaksud oleh si pengirim (http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi) dalam Kurniawan (2010).

v) Bahasa Slang
      Bahasa Slang oleh Kridalaksana (1982:156) dirumuskan sebagai ragam bahasa yang tidak resmi dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern sebagai usaha orang di luar kelompoknya tidak mengerti, berupa kosa kata yang serba baru dan berubah-ubah. Hal ini sejalan dengan pendapat Alwasilah (1985:57) bahwa slang adalah variasi ujaran yang bercirikan dengan kosa kata yang baru ditemukan dan cepat berubah, dipakai oleh kaum muda atau kelompok sosial dan profesional untuk komunikasi di dalamnya. Slang digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan kata, penggunaan kata alam diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata bunyi, kosakata yang lazim diapakai di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang berbeda makna sebenarnya.

vi) Bahasa Prokem
Bahasa prokem biasa juga disebut sebagai bahasa sandi, yaitu bahasa yang dipakai dan digemari oleh kalangan remaja tertentu (Laman Pusat Bahasa dan Sastra, 2004). Sarana komunikasi seperti ini diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya. Bahasa prokem itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan latar belakang sosial budaya pemakainya. Tumbuhkembang bahasa seperti itu selanjutnya disebut sebagai perilaku bahasa dan bersifat universal. Artinya bahasa-bahasa seperti itu akan ada pada kurun waktu tertentu (temporal) dan di dunia mamapun sifatnya akan sama (universal).
Kosakata bahasa prokem di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Bahasa prokem berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasa prokem, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain.
Kehadiran bahasa prokem itu dapat dianggap wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan nurani anak usia remaja. Masa hidupnya terbatas sesuai dengan perkembangan usia remaja. Selain itu, pemakainnya pun terbatas pula di kalangan remaja kelompok usia tertentu dan bersifat tidak resmi. Jika berada di luar lingkungan kelompoknya, bahasa yang digunakannya beralih ke bahasa lain yang berlaku secara umum di lingkungan masyarakat tempat mereka berada. Jadi, kehadirannya di dalam pertumbuhan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah tidak perlu dirisaukan karena bahasa itu masing-masing akan tumbuh dan berkembang sendiri sesuai dengan fungsi dan keperluannya masing-masing.
Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di Jakarta.
Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah) memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk memberkan kode kepada lawan bicara (kalangan militer dan kepolisian juga menggunakan).
Contoh yang sangat mudah dikenali adalah dagadu yang artinya matamu. Perubahan kata ini menggunakan rumusan penggantian fonem, dimana huruf M diganti dengan huruf D, sedangkan huruf T dirubah menjadi G. Sementara huruf vokal sama sekali tidak mengalami perubahan. Rumusan ini didasarkan pada susunan huruf pada aksara jawa yang dibalik dengan melompati satu baris untuk masing-masing huruf. Bahasa ini dapat kita jumpai di daerah Yogyakarta dan sekitarnya.
Belakangan ini bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa pergaulan anak-anak remaja. Dalam konteks kekinian, bahasa pergaulan anak-anak remaja ini merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu (kalangan homo seksual atau waria). Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999. Cara pengucapan bahasa gaul dilafalkan secara sama seperti halnya bahasa Indonesia. Kosakata-kosakata yang meminjam dari bahasa lain seperti bahasa Inggris ataupun Belanda diterjemahkan pengucapannya, contohnya, 'Please' ditulis sebagai Plis, dan 'Married' sebagai Merit (http://id.wikipedia.org/wiki/bahasaprokem).
vii) Komunitas Punk
Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Punk dapat diartikan sebagai ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan Komunitas Punk menjadi sebuah fenomena dalam masyarakat baik di Indonesia sendiri ataupun di dunia. Ideologi, tabiat anarkisme sampai dengan penggunaan bahasa, sepertinya telah menjadi sebuah kultur tersendiri bagi komunitas Punk itu sendiri. Dari segi Bahasa, banyak bahasa-bahasa komunitas Punk yang berisikan pesan sebuah pembebasan, pemberontakan, ataupun sebuah ancaman.
Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

viii) Rock

Rock, dalam pengertian yang paling luas, meliputi hampir semua musik pop sejak awal 1950-an. Bentuk yang paling awal, rock and roll, adalah perpaduan dari berbagai genre di akhir 1940-an, dengan musisi-musisi seperti Chuck Berry, Bill Haley, Buddy Holly, dan Elvis Presley. Hal ini kemudian didengar oleh orang di seluruh dunia, dan pada pertengahan 1960-an beberapa grup musik Inggris, misalnya The Beatles, mulai meniru dan menjadi populer.
Musik rock kemudian berkembang menjadi psychedelic rock, kemudian menjadi progressive rock. Beberapa band Inggris seperti The Yardbirds dan The Who kemudian berkembang menjadi hard rock, dan kemudian menjadi heavy metal. Akhir 1970-an musik punk rock mulai berkembang, dengan kelompok-kelompok seperti The Clash, The Ramones, dan Sex Pistols. Di tahun 1980-an, rock berkembang terus, terutama metal berkembang menjadi hardcore, thrash metal, glam metal, death metal, black metal dan grindcore (http://id.wikipedia.org/wiki/genremusik).





Bab III
Metode Penelitian
A. Jenis penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan model deskriptif. Pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan (Moleong, 2007: 11). 
B. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah komuitas atau Geng Punk Rock di wilayah Sriwedari Surakarta.
C. Sumber Data
Sumber data dari penelitian ini adalah barasal dari komunitas Punk Rock, buku, stiker Punk Rock, internet, dan majalah Punk Rock.


D. Waktu Penelitian
Tahap-tahap pelaksanaan kegiatan penelitian selama empat bulan, yaitu bulan Juli sampai Oktober 2010.


Nama Kegiatan
Tahun 2010
Bulan ke-1
Bulan ke-2
Bulan ke-3
Bulan ke-4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
A.    Persiapan

Studi pustaka
x















Desain data

x














Penelitian  Pendahuluan

x
x
x












B.     Pelaksanaan

Pengumpulan data primer



x
x
x
x
x








Survei lapangan






x
x
x
x






Rekapitulasi data









x
x
x




Analisis data











x
x
x


C.    Penyusunan Laporan













x
x
x
E. Teknik Pengumpulaln Data
Pengumpulan data dari penelitian ini menggunakan teknik wawancara dan observasi:
1. Wawancara mendalam
Maksud dari wawancara mendalam adalah wawancara yang dilakukan pada waktu dan konteks yang dianggap paling tepat guna mendapat data yang rinci, sejujurnya, dan mendalam, dan dilakukan beberapa kali sesuai dengan keperluan penelitian yang berkaitan dengan kejelasan dan kemantapan masalah yang sedang dijelajahi.

2.      Observasi
       Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung ke lokasi pembuatan gamelan berbahan perunggu untuk mendapatkan data yang cukup.

F.     Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Analisis data dilakukan secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas. (Miles and Huberman dalam Sugiyono, 2007: 183) dalam penelitian Siska, Sukrisno dan Anik (2009).

G.    Penyajian Hasil Analisis
Penyajian hasil analisis dalam penelitian ini menggunakan metode penyajian formal dan informal. Metode penyajian formal adalah penyajian dengan menggunakan tanda-tanda atau lambang-lambang. Adapun metode penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa (Mahsun, 2005: 116).

H. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan proposal penelitian yang  berjudul ” Karakteristik dan Variasi Bahasa Slalng Geng Punk Rock ini adalah :
Bab I meliputi ; latar belakang masalah.,tujuan penelitian,manfaat penelitian. Bab II tinjauan pustaka dan landasan teori. Bab III Metode penelitian meliputi;
Jenis penelitian, objek penelitian, sumber data, waktu penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, penyajian hasil analisis, dan sistematika penulisan.




Daftar Pustaka

Agustin, dkk. 2009. “Kajian makna Leksikal dan Filosofis pada Instrumen Gamelan Berbahan Perunggu Serta Relevansinya dengan Ajaran Islam yang Terkandung dalam Al-Quran”. PKM. Surakarta: Universitas Muhammadiah Surakarta.
Apriani. 2008. “Variasi Bahasa, Isi Pesan, dan Kode Bahasa Chatting untuk Komunikasi Pergaulan di Internet”. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer dan Agustina.1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta. Rineka Cipta.
Halliday, M.A.K. dan Ruqaiya Hasan. 1995. Bahasa, Konteks, dan Teks: Aspek-aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial. Terjemahan Asruddin Barori Tou. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Kurniawan, Nazil. 2010. Membaca dan Mengurai Bahasa dalam Spanduk. Surakarta: Jagat Abjad.
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Pers.
Ohoiwutun, Paul. 2001. Sosiolinguistik. Jakarta. Kesain Blanc.
Sumarni. 2008. “ Analisis Tuturan Kru Bus Jurusan Solo-Sragen (Interaksi antara Kru Bus-Penumpang/ calon penumpang). Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sundari. 2008. “Penggunaan Bahasa Prokem Waria di Kota Trenggalek”. Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Wahyuni. 2009. “ Kekhasan Bahasa Dalam Berkomunikasi di Kalangan Komunitas Punker (Studi pada Komunitas Punk Malang)”. Skripsi. Malang: Universitas Muhamadiah Malang.






 
 

Kajian Strata Makna Puisi


Kajian Strata Makna Puisi ‘Kata’
Karya Subagio Sastrowardoyo
‘Kata’
Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

Kajian Strata Makna
Puisi merupakan karya sastra yang memiliki struktur yang sangat kompleks dan berlapis-lapis yang terdiri dari beberapa strata atau lapis norma. Masing-masing lapis norma menimbulkan lapis norma dibawahnya.
Lapis norma pertama disebut lapis bunyi atau sound stratum. Bunyi yang dianalisis adalah bunyi yang istimewa atau bunyi yang mendapatkan efek puitis. Dalam puisi Subagio Sastrowardoyo yang berjudul ‘Kata’, pada bait pertama, baris pertama ‘Asal mula adalah kata’ ada asonansi bunyi ‘a’.
Pada bait kedua ada asonansi bunyi ‘a’ dan alitrasi bunyi ‘k’ dan ‘t’ pada kata ‘Kita takut kepada momok karena kata.  Kita cinta kepada bumi karena kata. Kita percaya kepada Tuhan karena kata. Nasib terperangkap dalam kata’.
Selain ada alitrasi dan asonansi, puisi diatas juga memiliki rima atau lambang rasa yang berfungsi untuk menambah keindahan dan memberi nilai rasa tertentu, yaitu aa, ab, aa.
Lapis norma kedua yaitu lapis arti atau unit of meaning.
Bait 1, Asal mula dari segala sesuatu adalah kata. Alam semesta dan isinya juga tersusun dari kata, sedangkan di balik Alam semesta dan isinya itu hanya ada ruang kosong dan angin pagi.
Bait 2, Kita takut kepada momok karena kata. Kita cinta kepada bumi juga karena kata
dan, kita percaya kepada Tuhan juga karena kata. Bahkan nasib pun terperangkap dalam kata.
Bait 3, oleh Karena itu aku bersembunyi di belakang kata, dan aku menenggelamkan diriku sendiri tanpa tersisa.
            Lapis norma ketiga berupa unsure intrinsic dan ekstrinsik.
Unsure intrinsic meliputi:
  1. tema dalam puisi ini adalah kata merupakan awal dan akhir segalanya. Dengan menggunakan kata bisa menimbulkan cinta dan malapetaka, termasuk kepercayaan pada Tuhannya.
  2. amanat dalam puisi ini adalah hendaknya kita senantiasa waspada terhadap ucapan dan kata. Karena kata merupakan awal dan akhir dari segalanya serta merupakan pencipta cinta dan petaka, tergantung kita yang menggunakakan dan Tuhan yang menentukan.
  3. feeling dalam puisi ini, pengarang memaknai kata sebagai sesuatu yang amat penting dan harus diperhatikan, dan pengarang memilih berhati-hati dalam penggunaannya sehingga ia menguasai dan menggunakannya tanpa sia-sia.
Unsure ekstrinsik pada puisi diatas adalah pengarang memaknai ‘kata’ sebagai asal mula dari segalanya. Kata dapat menimbulkan cinta dan celaka, tergantung pada manusia yang menggunakan, termasuk kepercayaan pada Tuhan.

Kajian Struktural Puisi ‘Pembersihan
Karya Subagio Sastrowardoyo


‘Pembersihan’

Kita adalah angkatan yang sedang menghadapi kematian
Jika genderang sudah ditabuh, kita tahu, di hari subuh
Kita kan di giring ke luar pagar dan rapat ke ujung tembok
Kita menghadapi maut
Menyergap. Tinggal menanti perintah tembak. Kita sudah tau.
Kita akan rebah satu persatu, diam terkulai, tanpa pekik atau keluh.
Demikian kita berakhir. Angkatan yang mengabaikan janji
Bagi bangsa dan tanah air. Kita bergelimang dalam dosa,
Dalam tipu dan kianat, dalam dengki dan mimpi sia.
Kita telah membinasa saudarasendiri dan menikam
Kawan kita yang paling setia. Kita telah menodai
Darah murni dengan dendam dan kebohongan. Kita tahu.
Kematian kita akan menyeret seluruh angkatan tenggelam.
Kita tahu
Istri kita yang hamil tua sudah kita kirimkan mengungsi
Ke daerah pedalaman. Disana mudahan lahir keturunan pria
Dengan tubuh perkasa dan mata pahlawan. Jika ia tanya
akan bapak, katakan, bahwa ia anak dewa yang mencecerkan
benihnya kepangkuan bunda. Ia tak boleh tahu akan nasib bapak
yang menjumpai mati di subuh hari.

Kajian Struktural
Puisi dipahami sebagai pengungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat, dimamna kata-katanya condong pada maakna yang kompetatif.
Pemahaman makna merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang baik berupa kegiatan mental maupun fisik didalam merespon dan menilai sesuatu. Kegiatan merespon dan menilai tidak dapat dilakuakn apabila seseoarang tidak mempunyai kemammpuan pemahaman makna betapapun relatifnya.
Pemahaman makna terhadap puisi dapat ditingkatkan melaluui kegiatan pembacaan terhadap puisi sebanyak mungkin. Jadi pemahaman makna puisi adalah kegiatan menggauli cipta puisi dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian penghayatan kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra.
Unsur-unsur Puisi:
  1. Unsur Intrinsik
a. Diksi. Diksi merupakan pilihan kata yang digunakan dalam puisi. Diksi pada puisi ‘Pembersihan’ menggunkan kata-kata yang cukup mudah dipahami karena lebih banyak menggunakan kata denotatif. Seperti pada baris;
Kita adalah angkatan yang sedang menghadapi kematian
Jika genderang sudah ditabuh, kita tahu, di hari subuh
Kita kan di giring ke luar pagar dan rapat ke ujung tembok
Kita menghadapi maut.
b. Irama. Irama merupakan pergantian turun naik, panjang pendek, keras lembut, ucapan bunyi bahasa secara teratur. Pada puisi ‘Pembersihan’ menggunakan nada tinggi dan tekanan yang keras karena merupakan puisi yang bercerita tentang perjuangan menghadapi perang.
c. Baris dan bait. Ciri visual baris dalam puisi perfungsi sebagai upaya untuk mencipkakan evek artistik dan untuk membangkitkan makna. Puisi ‘Pembersihan’ memiliki dua puluh dua baris dalam satu bait yang saling berhubungan.
d. Kata kongkret. Kata kongkret adalah kata nyata. Dalam puisi ‘Pembersihan’ banyak terdapat kata kongkret, seperti terdapat pada baris ‘Kita adalah angkatan yang sedang menghadapi kematian’.
Rima. Puisi ‘Pembersihan’ mengalami pengulangan bunyi pada baris;
Kita sudah tau.
Kita akan rebah satu persatu, diam terkulai, tanpa pekik atau keluh.
Demikian kita berakhir. Angkatan yang mengabaikan janji
Bagi bangsa dan tanah air. Kita bergelimang dalam dosa,
Dalam tipu dan kianat, dalam dengki dan mimpi sia.
Kita telah membinasa saudarasendiri dan menikam
Kawan kita yang paling setia. Kita telah menodai
Darah murni dengan dendam dan kebohongan. Kita tahu.
Kematian kita akan menyeret seluruh angkatan tenggelam.
Kita tahu…’
e. Interpolasi. Intrpolasi merupakan penyisipan kata pada kalimat dalam puisi untuk memperjelas makna. Seperti pada baris Kita menghadapi maut
Menyergap. Tinggal menanti perintah tembak. Kita sudah tau.
Kita akan rebah satu persatu, diam terkulai, tanpa pekik atau keluh.
Demikian kita berakhir.
  1. Unsur Ekstrinsik
Pengarang menceritakan tantang angkatan yang akan menghadapi kematian, yang menunggu perintah untuk maju berperang. Maut  akan segera datang menjemput, akan merebah satu per satu dan diam terkulai tanpa mengeluh. Namun perjuangan yang dulu sempat terjadi, kini menjadi saling tipu dan khianat dalam dengki dan menjadi mimpi yang sia-sia.
Kini tak tau lagi yang semula kawan menjadi lawan, kesetiaan berubah menjadi dendam dan kebohongan. Pengarang berharap akan lahir angkatan atau penerus yang kesatria dan berhati pahlawan yang bisa mendatangkan kedamaian.

Daftar Pustaka

Nurgiantoro, Burhan. 1982. Teori Pengkajian Fiksi. Yogjakarta: Gajah Mada University Press.
Sastrowardoyo, Subagio. 1982. Daerah Perbatasan. Jakarta: Balai Pustaka.
Aminudin. 2009. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Malang: Sinar Baru Algesindo.




Analisis Cerpen

CERPEN SANG IDOLA

Aku kesal setengh mati. Mataku tidak bisa mempercayai apa yang kulihat di tempat parkir saat bubaran sekolah. Anton, si Anton yang jagoan basket itu, yang jadi idola cewek-cewek seantero kelas satu dan dua, memboncengi Anita, si kutubuku yang sama sekali bukan siapa-siapa. Tapi ini kenyataan.
Dina, sahabatku yang setia, juga ikut mengumpat-umpat, “Hebat amat tuh si Anita, sampai bisa diboncengi Anton!”
“Udah ngerayu berbulan-bulan kali… akhirnya kena juga.” Tambah Yeni, sahabatku yang lainnya.
“Menurutku sih, jangan-jangan pakai guna-guna…” Ujarku sembarangan.
“Tapi, kan bukan berarti mereka jadian kan.” Timpal Dina, masih berharap.
Kami bertiga saling berpandangan, di depan pintu perpustakaan yang dekat lapangan parkir itu. Biasanya kami memang saling bersaing dalam kompetisi untuk mencari perhatian Anton. Tapi kali ini, karena ada musuh baru, tiba-tiba kami merasa senasib. Persahabatan rasanya jadi semakin kuat.
Sebetulnya, selama ini, kami sering berusaha menunjukkan perhatian kami ke Anton. Setiap pertandingan bola basket, dimana Anton menjadi bintangnya, kami selalu hadir dan paling bersemangat memberikan dukungan. Antonpun tampaknya menyadari bahwa kami fans beratnya. Maka setiap ia berhasil mencetak angka, ia selalu berlari ke arah kami, memberikan tos sambil tersenyum, membuat kami yang duduk di bangku terdepan seakan meleleh.
Tapi hari ini aku kesal sekali. Pada Anita, juga pada Anton. Tidakkah ia menyadari bahwa Anita itu seorang anak kuper, yang lebih banyak malu-malunya dibanding bergaul dengan teman-teman lain. Walaupun harus diakui, ia anak paling pandai dalam kelas. Mungkin itu sebabnya, Anton tertarik padanya, sebab rasanya tak mungkin kalau Anita yang berinisiatif mendekatinya duluan, aku beranalisa. Dina dan Yeni juga tampak diam, barangkali mereka berdua juga sedang sibuk beranalisa. Makin dipikir makin kesal rasanya.
##########
Saat istirahat siang, di kantin sekolah, suasana tempat kami berkumpul untuk bergosip jadi penuh bisik-bisik. Topik pembicaraan hangat sambil menghirup teh botol, apalagi kalau bukan, Anton dan Anita, AA!
“Tuh, lihat Din, sekarang Anita sudah berani dandan tuh!” Yeni memulai.
“Iya, jadi menor kayak gitu, ih!” Timpal Dina.
“Gayanya, uh… kecentilan banget sih!”
Berjarak dua meja dari kami, Anita duduk sendirian sambil menikmati mie basonya. Yang tidak biasa adalah, ia mengenakan anting-anting panjang. Sejujurnya, ia jadi tampak lebih manis. Tapi bagi kami saat ini, ia tampak bagaikan seorang nenek sihir!
Selang tak lama, Anton tampak berjalan masuk ke kantin. Serentak kami bertiga memasang wajah paling manis. Ketika Anton melalui meja kami, dengan kompak kami menyapa, “Hai Anton….” Bagaikan koor.
Anton tersenyum ramah, mengangkat tangan kanannya dan berjalan terus. Lalu duduk di meja Anita, berhadapan dengannya dan membelakangi kami. Aku, Dina dan Yeni ternganga. Mereka berdua berbincang dengan asyik, sesekali Anita tertawa tersipu. Oh, sungguh pemandangan yang menyakitkan.
“Kayaknya kita makin kalah set nih.” Akhirnya Yeni membuka suara.
Aku dan Dina seakan tercekat, tak mampu berkata apa-apa. Anton lebih tertarik pada Anita daripada kami bertiga.
“Yuk, mendingan bubar…” Ajakku akhirnya.
Kami bertiga berjalan melalui meja mereka. Saat Anita melihat ke kami, aku memberi pandangan sinis. Biarin, biar ia tahu aku kesal, meskipun mungkin ia tidak tahu sebabnya. Dina dan Yeni pun melakukan hal yang sama. Kami berjalan kembali ke kelas dengan masih sambil menggosipkan mereka berdua.
##########
“Halo Ran!”
Aku memandang ke arah asal suara dan terkejut. Anton!
Ia mengambil tempat duduk di sebelahku, di meja baca perpustakaan. Aku salah tingkah dan berusaha tersenyum ramah kepadanya.
“Tumben, jagoan basket mampir ke perpustakaan…” Aku mencoba menetralisir perasaan dag dig dugku.
“Iya, nyari kamu.” Jawabnya. Senyumnya yang menawan terus dikembangkannya.
Mencari aku? Ah, pangeran, kenapa baru sekarang?
“Ada apa Ton?” Tanyaku sambil pura-pura meneruskan baca novel yang kupegang sejak tadi.
“Kangen…”
Apa aku tidak salah dengar?
“Apa Ton?” Tanyaku lagi.
“Kangen sama kamu.” Anton mengulang jawabanya.
Aku terpana. Mata Anton menatap lurus kemataku. Sejujurnya, meski aku naksir dia, tapi kalau berhadapan langsung seperti ini, aku benar-benar salting. Apalagi ia bilang kangen.
Tangan Anton menggenggam tanganku, sambil berkata “Mau sekalian nanya… Sabtu sore besok ada acara?”
Ada apa ini, mengapa mendadak seperti ini? Tapi hatiku tak sempat mempertayakan lebih jauh. Naluriku langsung memaksaku untuk menjawab, “Enggak. Emang kenapa Ton?”
“Aku mau ngajak kamu ke acara khusus.”
“Acara apa?”
“Di Bentara Budaya ada acara baca puisi. Seru lho, ada Ben Alkhairy.”
Bagaimana Anton bisa tahu aku suka acara baca puisi. Apalagi sampai tahu seniman favoritku, Ben Alkhairy.
“Boleh Ton. Aku suka.” Jawabku dengan mata berbinar.
“Kalau begitu, aku jemput jam lima sore ya.”
Aku mengangguk dan terdiam. Diam, karena tidak tahu mau omong apa.
“Ya udah Ran, aku mau balik dulu.”
“Eh, sebentar Ton.” Aku menggamit tangannya, menghentikan langkahnya.
“Kenapa?” Anton duduk kembali di sebelahku.
Aku tak tahu harus mulai darimana. Aku bingung, kenapa Anton mengajakku, bukannya Anita.
“Ranti, ada apa? Kamu ada acara lain?” Tanya Anton sambil menatap dalam-dalam ke mataku. Oh, jangan melihatku seperti ini. Aku bisa kehilangan kata-kata.
“Ton, Anita enggak marah, kamu ngajak aku pergi?” Akhirnya keluar juga pertanyaan ini.
Anton tersenyum. “Kenapa kamu nanya gitu?”
“Selama ini, aku lihat kamu dekat sama dia. Kalian jadian?” Tanyaku lagi memberanikan diri.
Anton menghela nafas sebelum menjawab. “Menurutmu aku jadian sama Anita?”
“Semua teman-teman juga bilang begitu.”
“Ranti, Ranti. Aku cuma mendekatinya supaya dia mau bantu aku bikinin pe er. Kalau dia salah mengerti ya bukan salahku dong.”
Aku terkejut dengan jawaban Anton.
“Tapi…”
“Sedari dulu sebetulnya aku suka kamu, Ranti, tapi kupikir aku belum berani bilang apa-apa sama kamu. Sekarang kamu sudah tahu kan…”
Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Anita melangkah masuk. Matanya tertumbuk pada Anton, lalu ketangannya yang sedang menggenggam tanganku. Anita berhenti melangkah, membetulkan letak kacamatanya. Kelihatannya ia tak percaya apa yang dilihatnya di depan mata.
Anton berdiri, berjalan keluar ruang perpustakaan. Saat melewati Anita, ia hanya menyapa, “Hai Nit!” seakan-akan tidak ada apa-apa.
Aku melihat Anita yang seperti terhipnotis. Diam, tak bergerak dan bicara.
Seharusnya aku merasa menang.
Seharusnya aku menertawainya.
Seharusnya Anita menangis dan berlari keluar.
Sedetik kemudian, yang kurasakan justru berbeda. Anita tetap melangkah masuk. Lalu duduk di hadapanku. Tampak ia berusaha tegar seakan tidak ada apa-apa. Justru aku yang merasa tidak tenang. Terpikir ucapan Anton tadi. Ia cuma memanfaatkan Anita saja. Dan tentunya Anita mendengar kata-kata Anton tadi.
Aku menghampirinya, duduk di sebelah dia. “Nit…” Sapaku perlahan. “Tadi Anton…”
“Ya, aku dengar semuanay Ran.” Anita memejamkan matanya. Di bali kacamata minusnya, di sudut matanya mengalir setitik air mata.
“Aku juga tidak senang apa yang Anton bilang tadi.” Kataku.
Anita menatapku seakan tak percaya.
“Ya Nit. Aku juga enggak bisa nerima omongannya. Dipikirnya kita cewek yang bisa didekati lalu ditinggal seenaknya.”
Anita mengangguk, menghapus air matanya. Aku merangkul bahunya.
“Kita balas dia ya Nit!”
##########
Pukul lima sore lewat sedikit. Aku mendengar deru motor di depan rumahku. Tak lama, bel pintu berbunyi.
“Hai Ranti, udah siap?” Sapa sang idola itu, saat aku membuka pintu.
“Mmm… gimana ya Ton, mendadak aku ada tamu penting nih.”
Anton melihat ke dalam ruang tamu dari balik pundakku. Matanya tertumbuk pada seorang cowok yang sedang duduk santai. Cowok itu lalu melangkah ke sampingku.
“Hai, kamu pasti Anton. Kenalkan Aku Hartono.” Cowok itu mengulurkan tangan.
Anton membalas menyalaminya. Mukanya menunjukkan ia bingung.
“Ini Hartono, Ton, cowokku baru datang dari Bandung. Ia mau ikutan nonton pembacaan puisi juga. Boleh ya Ton.”
Anton membuka topi petnya, menggaruk kepalanya. “Boleh aja sih Ran…” Jawabnya tak bersemangat.
“Oke, kita ketemu di sana ya. Aku naik mobilnya Hartono.” Kataku lagi.
Anton tak punya pilihan. Maka ia segera menunggangi motornya kembali dan berlalu.
Aku menyusulnya bersama Hartono.
Tiba di Bentara Budaya, Anton yang tiba lebih dahulu sudah duduk di salah satu meja. Wajahnya benar-benar tak bersemangat. Kami lalu duduk bersama. Sepanjang acara, hanya aku dan Hartono yang berbincang saja. Kadang saat aku menanyakan sesuatu pada Anton, ia hanya menjawab sekenanya. Menjelang acara berakhir tiba-tiba Anita muncul.
“Sori Ranti, aku telat. Soalnya tadi kena macet.” Ujar Anita. Anton terbelalak. “Geser sedikit Ton.” Ucapnya sambil duduk bergabung dengan meja kami.
Anton sedikit bersemangat, tapi tak punya kesempatan bicara, karena Anita, Hartono dan aku sibuk ngobrol. Akhirnya ia hanya duduk bersandar di kursinya, kehilangan minat sama sekali pada acara ini.
Ketika acara usai, kami bertiga berpamitan pada Anton. “Makasih ya Ton, udah ngajakin kita ke acara ini. Kita jalan dulu ya.” Ucapku padanya sambil berjalan ke mobil Hartono. Anton hanya mengangguk lesu. Ketika masuk ke mobil, semuanya tertawa.
“Kamu lihat mukanya tadi Nit? Berusaha mau ngajak kamu ngobrol.”
“Iya, tapi lebih asyik obrolan kita ya…” Jawab Anita seru, “Tapi tadi waktu jemput kamu, dia benar-benar kaget dong?”
“Tentu saja. Tapi ini terakhir aku pura-pura jadi pacar Ranti ah. Nanti aku enggak laku!” Sahut Hartono sambil tertawa. Sebetulnya, Hartono adalah sepupuku yang kuliah di Bandung. Aku meminta bantuannya untuk mengerjai Anton.
Kami menurunkan Anita di rumahnya, lalu langsung pulang. Setibanya di rumah, tak lupa aku berterima kasih pada Hartono.
“Makasih ya Har. Kamu baik deh.” Aku menepuk punggungnya.
“Sama-sama Ran. Eh, tapi jadi kan kamu nyomblangin aku ke Anita?” Sahutnya bersemangat.
“Huuu… jadi nolongin ada imbalannya nih?”
“Bukan imbalan sih. Tapi enggak ada salahnya kan.”
“Iyalah. Tapi kamu enggak playboy kayak Anton kan?”
Hartono mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, membentu hurf V, “Pasti Ran.”
Kami tertawa bersama. Dina dan Yeni mesti kuberitahu kejadian seru hari ini.
*** by Chr: 1986 ***
Analisis Cerpen “Sang Idola” karya Chaer:1986

  1. Analisis Makna

Cerpen sang idola menceritakan tentang kisah remaja disekolah antara persaingan, cinta dan persahabatan. Kehadiran Sang idola, Anton jagoan basket yang diidolakan cewek-cewek disekolah, menimbulkan persaingan antara Ranti, kedua sahabatnya dan Anita si kutubuku yang kuper.
Persaingan dengan kedua sabatnya tidak menimbulkan masalah, karena mereka bersaing sehat dan tetap sahabat. Tapi saingan baru mereka ini yang menimbulkan masalah besar. Cewek saingannya itu adalah Anita si kutubuku. Anton sering jalan bareng sama Anita, malah sering juga dibonceng saat berangkat sekolah. Penampillan Anita pun berubah. Yng semua cupu dan kuper berubah menjadi lebih manis dan menor pakai anting panjang. Mereka berdua tampak semakin dekat, dan Anton lebih tertarik pada Anita dari pada dengan Ranti dan kedua sahabatnya.
Yang sangat mengagetkan ketika diperpus, Anton menghampiri Ranti dan duduk disampingnya. Anton bilang ingin bertemu dengannya karena kangen dan mengajaknya keluar nanti sore ke Bentara Budaya nonton acara baca puisi acara kesukaan Ranti. Ia setuju, dan sebelum Anton beranjak meninggalkan nya, Ranti bertanya tentang Anita. Ia bertanya apakah Anita tidak marah kalau lihat mereka jalan brdua. Anton menjelaskan kalau dia tidak ada apa-apa dengan Anita, dia mendekatinya supaya mau dibantu bikin PR saja. Anton juga bilang sebenarna sudah lama dia naksir sama Ranti papi belum sempat menyatakan.
Ternyata apa yang mereka bicarakan tadi didengar oleh Anita. Tiba-tiba Anita masuk dan melepaskan genggaman tanganya dengan Ranti, menyapa Nita lalu pergi, seperti tidak terjadi apa-apa. Anita duduk disebelah Ranti lalu menangis. Bukan rasa puas dan senang melihat Anita patah hati, tapi justru berbeda. Kemudian mereka berdua curhat dan Ranti menenangkan Anita yang hancur hatinya. Mereka berdua sepakat akan membalas.
Pukul lima sore Anton menjemput Ranti, tapi tidak beranjak pergi karena ada cowok dibelakang Ranti. Kemudian ia mengenalkanya dengan dengan sang idola basket itu, dan ternyata Ranti bilang itu adalah pacarnya. Ranti juga bilang mau mmengajak Hartono cowoknya itu ikut nonton. Lalu mereka berangkat bersama, tapi dang idola basket sendirian dengan motornya karena Ranti bersama dengan Hartono nak mobil. Dengan tak bersemangat Anton pun terpaksa berangkat.
Sampainya di Bentara Budaya, Anton hanya duduk bersandar tak bersemangat, sedangkan Ranti dan Hartono asyik berbincang. Tak lama kemudian Anita datang dan mereka bertiga asyik ngobrol, tapi Anton hanya bicara sedikit dan menjawab sekenanya saja. Ketika acara usai, mereka bertiga beranjak duluan  dan berpamita pulang pada Anton dan mengucapkan terimakasih telah menemani mereka. Anton menjawabnya dengan anggukan lesu. Ketika masuk ke mobil, semuanya tertawa dan ternyata itu adalah sekenario mereka untuk membalas Anton, dengan bantuan Hartono sepupu Ranti yang kuliah di Bandung. Untuk membalasnya Tono minta agar Ranti mau ngejomblangin Tono ke Nita, dan Ranti setuju tapi memastikan bahwa Hartono tidak playboy seperti Anton, dan mereka tertawa bersama. Ranti berfikir, ia mesti memberi tahu kepada Dina dan Yeni sahabatnya.
  1. Analisis Struktur

  1. Alur
Paparan digambarkan ketika tokoh aku dan kedua sahabatnya kesal karena Anton sang idola mereka ngeboncengin Anita. Rangsangan ketika mereka berdua sering jalan bareng. Gawatan diambarkan ketika Niita dan Anton makan bareng di kantin sekolah, dan mereka bertiga dicuwekin. Klimaks digambarkan ketika anton mmenghampiri Ranti, menyatakan kalau dia naksir Ranti sudah lama. Kemudian Anton ngajak Ranti keluar nonton acara baca puisi. Sang idola basket juga mengatakan ia dekat dengan Anita karena cima iseng agar dia mau Bantu Anton bikin PR. Anita mmendengarkan semua pembicaraan Anton dan patah hati.
Leraian digambarkan ketika Anton menjemput Ranti untuk nonton acara baca puisi. Selesaian digabarkan ketika Ranti menajak Hartono yang dkenalkan pada Anton sebagai cowoknya yang baru datang dari Bandung, mereka berangkat dan Anton kecewa tapi terpaksa berangkat. Anita juga hadir, lalu mereka bertiga asyik ngobrol dan Anton hanya diam. Setelah acara selesai, mereka bertiga berpamitan dan masuk mobil lalu tertawa bersama, karena telah membalas perlakuan Anton.
  1. Tokoh dan Penokohan
Tokohnya yaitu Anton sebagai pemeran utama sekaligus lawan idola lalu menjadi lawan tokoh Ranti dan Anita, Yeni dan Dina sebagai sahabat Ranti, Hartono sebagai sepupu Ranti. Ranti dalam cerpen “Sang Idola” merupakan unsure yang sangat penting karena menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan kepada pembaca. Bahwa keberadaan teman adalah sangat penting, maka tidak perlu adanya persainganmemperoleh perhatian atau apapun dengan menorbankan persahabatan. Bukan sifat pendendam yang diperankan oleh Ranti, tapi untuk mempertahankan persahabatan dan menyadarkan Anton. Tokoh Anton bersifat sombong, playboy, suka mempermainkan dan memanfaatkan cewek. Anita bersifat baik, sabar, dan tidak pendendam.
  1. Latar
Penulis lebih menekankan tempat dan suasana kejadian. Yaitu berawal dari sekolahan; kantin, parkiran dan perpustakaan. Lalu di Bentara Budaya pada acara baca puisi, suasananya menyenangkan.
  1. Tema
Cerpen “Sang Idola” menceritakan tentang persaingan, cinta, dan persahabatan. Persaingan untuk memperoleh perhatian dari seorang cowok tidak sebanding dengan persahabatan sejati.
  1. Amanat
Pengarang cerpen “Sang Idola” mengajak untuk menilai sebuah persaingan dan persahabatan. Persaingan merebut perhatian atau apapun menjadikan Ranti memahami sebuah kebenaran dalam persahabatan. Ranti, Anita dan mereka semua yang masih remaja, dengan cara anak remaja juga mereka memberi pelajaran kepada Anton agar sadar dan jera akan keplayboyannya dan agar bias menghargai wanita serta arti persahabatan.